9 Ritual Pemakaman Paling Unik di Dunia

Prosesi pemakaman dengan menguburkan jenazah ke dalam tanah seperti yang ada di San Diego Hills merupakan salah satu ritual pemakaman yang paling umum di dunia. Ada berbagai macam ritual pemakaman di dunia yang unik dan mungkin terdengar janggal bagi kita. Ini daftar 9 ritual pemakaman paling unik yang ada di berbagai belahan dunia.

1. Ritual Kremasi Sepanjang Waktu di Varanasi, India

Hanya ada di India kremasi dilakukan selama dua puluh empat jam setiap hari. Kota Varanasi dikenal sebagai salah satu kota suci di India dan merupakan tujuan wisata populer. Varanasi dikenal sebagai ibu kota spiritual India dan juga sebagai kota kuil karena banyaknya kuil dan ritual kematian yang dilaksanakan di kota ini.

ritual pemakaman di varanasi India

Varanasi berada tepat di tepi sungai Gangga. Setiap hari, Anda bisa menjumpai ratusan jenazah yang dikremasi di sepanjang tepi sungai ini. Legenda mengatakan bahwa Dewa Siwa, sebagai salah satu dewa terpenting dalam agama Hindu menangkap rambut Gangga sehingga dia tidak dapat melarikan diri lalu membiarkannya menetes ke bumi.

Kemudian dia memilih Varanasi sebagai kota favoritnya dan tinggal di tepi sungai tersebut. Bagi orang India, Sungai Gangga bukan hanya kumpulan air, melainkan laksana dewi yang hidup dan bernafas seperti denyut nadi.

Kuil Kashi Vishwanath di Varanasi India

Dikenal sebagai kota kuil, Varanasi memiliki lebih dari 23.000 kuil. Kuil yang paling terkenal adalah Kuil Kashi Vishwanath. Kuil ini didedikasikan untuk Dewa Siwa. Ribuan peziarah datang ke sini untuk berdoa kemudian mandi di sungai Gangga. Kuil ini bukan hanya tempat religius tetapi juga sebuah keajaiban arsitektur dengan lapisan emas, batu hitam, dan aksen perak.

Ritual kematian sangat kuat di Varanasi. Kehidupan disana berputar di sekitar pembakaran mayat dan doa. Setiap hari wisatawan banyak yang melihat ritual kremasi yang ada di tepi sungai Gangga. Moksha adalah akhir dari siklus kelahiran kembali dalam keyakinan Hindu maupun Buddha. Mencapai moksha berarti mengakhiri penderitaan.

2. Tower of Silence Zoroaster di Iran

Tower of Silence atau Dakhma (Persia) merupakan bangunan tinggi berbentuk bulat yang dibuat oleh kaum Zoroaster untuk ritual ekskarnasi. Ritual pemakaman ini berada di ketingggian dengan alasan untuk mencegah kontaminasi pada tanah dan unsur alam lainnya oleh mayat. 

Tower of Silence - ritual pemakaman zoroaster di Iran

Tower ini memiliki atap yang hampir datar, sekelilingnya terdapat bangunan pembatas yang sedikit lebih tinggi daripada bagian tengahnya. Atapnya dibagi menjadi tiga cincin konsentris: tubuh laki-laki diatur di sekitar cincin luar, wanita di cincin kedua, dan anak-anak di cincin paling dalam. Kawasan ritual ini hanya boleh dimasuki khusus pengusung jenazah yang yang disebut nusessalars.

Masyarakat Iran kuno menganggap manusia dan bangkai hewan sebagai najis dan dapat mencemari segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Biasanya mayat dimakan oleh burung nasar dan pemakan bangkai lainnya. Kemudian sisa-sisa kerangka dikumpulkan ke tengah lubang dimana alam melanjutkan pelapukan lebih lanjut dan kerusakan terus terjadi.

Tulang-tulang menjadi putih oleh paparan matahari dan terpaan angin. Proses ini bisa memakan waktu hingga satu tahun. Setelah itu tulang-tulang itu dikumpulkan di lubang osuarium yang ada di tengah menara, di mana secara bertahap kemudian hancur. Sisanya hilang bersama dengan limpasan air hujan, merembes melalui beberapa filter batu bara dan pasir sebelum akhirnya hanyut ke laut.

3. Pemakaman Perahu Suku Viking

Salah satu ritual pemakaman unik yang ada di negara-negara Nordik kuno adalah pemakaman dengan perahu. Tradisi ritual ini menggunakan kapal air atau perahu dalam ritual pemakaman untuk orang yang sudah meninggal.

Mayat diletakkan di dalam “kapal kematian” kemudian dikubur ke dalam tanah atau bisa juga dilarung ke sungai atau ke laut kemudian dibakar menggunakan panah api. Hal tersebut dipercaya sebagai bentuk mengembalikan jenazah kepada dewa atau tempat yang paling terhormat.

ritual pemakaman menggunakan perahu suku viking

Pemakaman menggunakan perahu ini biasanya dilakukan oleh suku Viking terutama untuk orang dengan status sosial yang tinggi. Jenazah biasanya dimasukkan ke dalam perahu bersama barang-barang miliknya. Barang-barang itu seperti makanan, pakaian, perabotan, senjata, hewan peliharaan, bahkan hingga budak milik almarhum. 

Contoh fantastis dari ritual penguburan Viking adalah “Kapal Oseberg” yang dikubur di dalam tanah yang tetap utuh selama lebih dari seribu tahun sebelum ditemukan di Norwegia pada tahun 1904. Kapal tersebut berisi kerangka dari dua orang wanita dengan pakaian mewah dan barang-barang berharga.

4. Ritual Pemakaman Famadihana di Madagaskar

Famadihana merupakan ritual pemakaman kembali yang dilakukan oleh Suku Merina yang ada di Madagaskar. Famadihana sendiri berarti pembalikan tulang jenazah leluhur. Dalam ritual ini beberapa kelompok etnis seperti orang Malagasi memiliki kepercayaan bahwa nenek moyang mereka merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan yang memiliki kekuatan untuk campur tangan dalam peristiwa yang ada di bumi.

Ritual pemakaman ini dimulai dari penggalian sisa-sisa leluhur di tempat pemakaman saat perayaan sekaligus sebagai momen reuni keluarga. Ritual ini biasanya diadakan sekitar 5 hingga 7 tahun sekali. Anggota keluarga yang dipilih kemudian dengan hati-hati mengganti pakaian mayat dan membungkus kembali dengan kain sutra yang baru. Saat perayaan ini keluarga dan para tamu melakukan aktivitas minum, mengobrol, dan menari dengan leluhur mereka.

ritual pemakaman famadihana di madagaskar

Setelah perayaan tersebut mayat-mayat ini selanjutnya dikembalikan secara hati-hati dengan posisi yang dibalikkan. Prosesi ini harus dilakukan sebelum matahari terbenam. Setelah proses pembalikan jenazah selesai dilakukan, ruang makam kemudian ditutup kembali hingga selama 5 sampai tujuh tahun ke depan untuk ritual famadihana berikutnya.

Banyak kelompok etnis di Madagaskar mempraktekkan asimilasi agama Kristen dengan kepercayaan tradisional, bedanya mereka tidak percaya adanya surga atau neraka. Warga suku Merina di Madagaskar melakukan ritual Famadihana ini karena mereka sangat menghargai leluhur. Ikatan mereka dengan leluhur atau anggota keluarga terdekat yang sudah meninggal tak berhenti sampai di pemakaman saja, tapi akan terus berkesinambungan.

5. Sky Burial di Tibet

Sky burial atau pemakaman langit sudah cukup terkenal sebagai ritual pemakaman yang ada di Tibet atau sekitaran pegunungn Himalaya. Praktik pemakaman dimana mayat manusia diletakkan di puncak gunung untuk membusuk saat terkena unsur alam seperti cuaca setelah sebelumnya dimakan oleh hewan pemakan daging, terutama burung nasar.

ritual pemakaman sky burial di tibet

Ritual ini merupakan bagian dari praktik umum inkarnasi, dimana mayoritas orang Tibet dan orang Mongol menganut Buddhisme Vajrayana yang mengajarkan perpindahan roh. Prosesi pemakaman ini tidak perlu mengawetkan tubuh, karena tubuh saat ini adalah bejana kosong, burung dapat memakannya atau alam dapat membuatnya busuk.

Ritual pemakaman sky burial ini banyak dipraktikkan di provinsi-provinsi yang ada di Cina atau di daerah otonom yang ada di Tibet, Qinghai, Sichuan, Mongolia, Bhutan, dan sebagian India seperti di Sikkim dan Zanskar. Salah satu alasan mengapa di daerah-daerah tersebut lazim melakukan ritual pemakaman seperti itu karena tanah di daerahnya terlalu keras dan berbatu untuk dapat digali sebagai kuburan.

Selain karena kelangkaan bahan bakar dan kayu, penguburan langit biasanya lebih praktis daripada praktik kremasi tradisional Buddha seperti kremasi. Fungsi penguburan langit hanyalah untuk membuang jenazah dengan cara yang semurah mungkin.

Lokasi persiapan pada ritual sky burial dipahami dalam tradisi Buddhis Vajrayana sebagai tanah pekuburan. Praktik yang sama pada zoroastrian yang ada di Iran, dimana almarhum dihadapkan pada unsur alam dan burung-burung pemakan daging yang diletakkan pada struktur bangunan batu yang disebut Dakhma.

6. Manik-Manik Dari Abu Kremasi di Korea

“Korean burial beads” menjadi salah satu ritual pemakaman unik yang ada di dunia. Sesuai namanya, praktik pemakaman ini ada di Korea Selatan, dengan menjadikan sisa abu kremasi menjadi manik-manik dengan bentuk yang lebih estetik.

Manik-manik tersebut berupa objek dekorasi kecil yang memiliki ukuran diameter sekitar 1 Cm yang kemudian diletakkan di kotak kremasi khusus yang terbuat dari kaca. Tentu saja manik-manik tersebut berasal dari jenazah dengan proses kremasi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi menarik. Ini cara orang Korea untuk menjaga orang yang dicintai tetap dekat, bahkan setelah mereka meninggal dunia.

ritual pemakaman korean beads burial

Praktik pemakaman menjadi manik-manik ini bukanlah praktik kuno di Korea Selatan, umurnya paling baru sekitar satu dekade. Ini termasuk tradisi baru dalam kebudayaan di Korea Selatan. Lalu bagaimana prosesi pemakaman ini bisa muncul di Korea Selatan?

Salah satu faktor mengapa praktik pemakaman manik-manik kremasi menjadi populer adalah karena populasi warga Korea Selatan yang terus meningkat. Negara ini adalah salah satu negara yang paling padat penduduknya di dunia dengan sekitar 1.302 orang per mil persegi. Secara perbandingan, kepadatan penduduk Kota Seoul di Korea Selatan hampir dua kali lipat dari kepadatan penduduk di Kota New York.

Pada tahun 2022 total penduduk Korea Selatan sebesar 51,3 juta dengan tingkat kematian yang tinggi. Pada tahun 2018, rata-rata 582 orang dari setiap 10.000 meninggal setiap tahun. Di pusat kota seperti Seoul yang memiliki populasi lebih dari 51 juta jiwa, terjadi lebih dari 8,6 juta kematian per tahun. Itulah mengapa jumlah orang yang memilih kremasi lebih banyak daripada yang dikubur, naik dari 20,5% menjadi 82,7% hanya dalam waktu satu generasi.

Faktor lainnya adalah dukungan pemerintah Korea Selatan sendiri, mereka bahkan telah mengkampanyekan kremasi dalam bentuk undang-undang. Itu merupakan solusi atas masalah pemakaman yang kian sulit di negaranya. Dalam undang-undang kampanye kremasi itu diberlakukan aturan bahwa jenazah yang dikubur setelah tahun 2000 harus dipindahkan setelah 60 tahun.

Pertimbangan lain kenapa prosesi ini menjadi populer adalah masalah lingkungan dan kebersihan. Selain itu cara berpikir masyarakat Korea Selatan yang mulai berubah, dari pemakaman tradisional berupa penguburan menjadi pemakaman kremasi yang lebih praktis dan tidak membutuhkan banyak ruang.

7. Peti Mati Gantung

Teknik pemakaman peti mati gantung (hanging coffin) banyak dilakukan oleh berbagai suku yang ada di dunia. Biasanya peti mati diletakkan baik itu digantung ataupun ditaruh pada celah-celah batu yang ada di tebing. Di Indonesia sendiri praktik pemakaman semacam ini dilakukan oleh orang-orang Toraja yang ada di Sulawesi. 

Liang Tokek di Toraja, Sulawesi

Peti mati di Toraja berbentuk perahu yang khas (erong) diletakkan di bagian bawah tebing yang menjorok. Alasan penempatan peti seperti itu adalah untuk mencegah para penjarah yang mungkin mencuri barang-barang yang dikubur bersama orang yang mati.

Tempat pemakaman seperti ini dikenal sebagai “liang tokek”. Liang tokek umumnya disediakan untuk para “pendiri desa”. Peti yang ada di dalam pekuburan ini termasuk peti mati tertua yang berasal dari sekitar tahun 780 Masehi.

makam gantung di toraja sulawesi

Liang Tokek ini bagian dari kompleks pemakaman selain pekuburan jenis lain, biasanya berbeda karena berdasarkan kelas sosial dan usia orang yang mati. Kompleks ini diyakini oleh suku Toraja sebagai tempat tinggal arwah orang mati di akhirat.

Peti Mati Gantung di Filipina dan Cina

Selain di Indonesia, pemakaman peti gantung juga kerap dilakukan oleh beberapa tradisi di belahan dunia lain seperti di Filipina atau Cina. Peti mati gantung adalah salah satu praktik penguburan yang dilakukan oleh orang Kankanaey di Sagada yang ada di pulau Luzon Filipina. Sedangkan di Cina yang paling terkenal adalah peti mati gantung yang dibuat oleh orang-orang Bo (sekarang sudah punah) dari Sichuan dan Yunnan.

Sama seperti di Toraja, mereka yang dimakamkan disana pasti telah melakukan perbuatan baik, membuat keputusan yang bijak, dan memimpin ritual adat selama hidup mereka. Ketinggian tempat peti mati mereka ditempatkan mencerminkan status sosial pada saat mereka hidup.

peti mati gantung di Filipina

Perbedaan peti mati gantung yang ada di Filipina dan Cina dengan yang ada di Toraja adalah posisi petinya. Tradisi di Filipina dan di Cina menggunakan celah batu di tebing sebagai tempat menaruh peti mati. Peti diselipkan di celah-celah atau ditumpuk satu sama lain di dalam gua batu kapur. Sedangkan di Toraja lebih banyak menggunakan kombinasi tali dan bambu untuk menggantung dan menopang posisi peti mati.

8. Mumi di Papua Nugini

Tradisi mumifikasi untuk pengawetan jenazah menjadi salah satu ritual yang digunakan oleh berbagai kebudayaan. Bahan pengawet, metode, dan prosesnya berbeda-beda tergantung dimana tradisi itu dikembangkan. Tidak hanya ada di Mesir, pengawetan jenazah untuk dijadikan mumi juga ada di tetangga dekat Indonesia, yaitu di Papua Nugini.

Suku Anga yang ada di Papua Nugini dikenal sebagai suku yang memumikan anggota sukunya ketika meninggal. Suku ini memiliki sejarah yang panjang di balik proses mumifikasi. Mereka menggantung mumi di tempat tinggi, seolah-olah orang tua mereka sedang mengawasi prosesi ini.

Metode mumifikasi di Suku Anga cukup rumit. Tubuh mayat diletakkan tergantung di atas api, ketika menggembung, mayat akan ditusuk menggunakan tongkat secara hati-hati untuk melebarkan anus. Tujuannya, untuk mengeluarkan cairan dan membantu untuk merontokkan organ di dalam tubuh.

ritual pemakaman unik mumi di papua nugini

Proses mumifikasi di Suku Anga cukup rumit, mulai dari mengiris terbuka bagian lutut, siku, kaki, dan sendi lainnya. Bambu berongga kemudian dimasukkan ke dalam celah perut untuk mengeluarkan isinya. Setelah tubuh itu dibakar dan kering, jenazah kemudian ditutupi dengan oker untuk melindungi mumi.

Mayat kemudian dibiarkan digantung seperti dalam proses pengasapan. Mereka dibiarkan selama lebih dari satu bulan sampai semua cairan tubuh keluar dan telah menetes dari berbagai luka yang dibuat di dalam tubuh. Cairan ini dikumpulkan oleh warga dan dioleskan ke tubuhnya sendiri. Mereka percaya dengan itu mereka dapat mentransfer kekuatan si pemilik tubuh semasa hidupnya.

Praktik mumifikasi di Papua Nugini berakhir pada tahun 1949, ketika para misionaris Kristen sudah datang dan memiliki pengaruh kuat dalam suku Aseki. Mumi yang tersisa sekarang secara hati-hati dirawat oleh penduduk desa yang secara berkala melakukan pekerjaan restorasi setiap kali anggota tubuh mumi terkulai atau terlihat seperti akan jatuh. Kadang bagian tubuh akan ditambahkan getah yang dipanaskan dari pohon lokal, yang digunakan sebagai lem supaya kondisi mumi tetap terjaga.

Mumi di Angga dapat ditemukan di beberapa desa dari Kecamatan Aseki Papua New Guinea. Kebetulan, suku Angga bukan satu-satunya yang melakukan ritual pemakaman mumifikasi ini. Mumifikasi juga dipraktikkan oleh suku Filipi di kota Kabayan. Mumi disana dikenal sebagai mumi Kabayan atau mumi Api.

9. Ritual Pemakaman Unik Coffin Dance di Afrika

Coffin Dance menjadi fenomena baru di benua Afrika khususnya di Ghana. Pemakaman yang biasanya berlangsung khidmat dan penuh kesedihan berubah menjadi prosesi pemakaman dengan suasana yang ceria, penuh musik dan tarian. 

Ritual pemakaman ini bermaksud untuk memberikan keceriaan  pada saat prosesi pemakaman. Salah satu alasan dipilih prosesi pemakaman yang tidak biasa ini biasanya karena keinginan pihak keluarga almarhum. Mereka berharap bisa melihat almarhum ikut berbahagia dengan tarian yang dihadirkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya dan kembali kepada sang pencipta.

Bentuk Pemakaman di San Diego Hills

Bentuk pemakaman yang ada di San Diego Hills sama seperti kebanyakan bentuk pemakaman yag ada di Indonesia dan di dunia secara umum. Secara garis besar bentuk pemakaman di San Diego Hills terbagi menjadi 2, yaitu :

1. Upper Ground Burial

Upper Ground Burial adalah bentuk pemakaman yang berada diatas tanah. Tipe pemakaman ini berupa penempatan abu jenazah yang berasal dari krematorium yang kemudian diletakkan di dalam kotak abu yang ada di columbarium. Bentuk pemakaman Upper Ground Burial biasanya digunakan oleh penganut agama Buddha atau Hindu, dimana jenazah sebelumnya dikremasi sebelum diletakkan di columbarium milik San Diego Hills.

2. Lower Ground Burial

Lower Ground Burial merupakan bentuk pemakaman standar dimana jenazah dimasukkan ke dalam liang kubur yang ada di dalam tanah kemudian jenazah ditutup atau ditimbun kembali dengan memberi tanda berupa batu nisan.

Upper Ground Burial biasanya digunakan oleh penganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha. Lokasi Upper Ground Burial ini terbagi menjadi 3 lokasi yaitu :

  1. Pemakaman Islam
  2. Pemakaman Kristen
  3. Pemakaman Buddha

Persiapan Makam di San Diego Hills

Untuk persiapan makam serta informasi harga San Diego Hills silahkan hubungi marketing San Diego Hills di 0811 9888 959 (telp/WA). Konsultasikan kebutuhan pemakaman sebelum membeli lahan makam, agar pemilihan unit makam sesuai dengan kebutuhan dan anggaran keluarga. 

Promo Paket

Tipe Single Burial memiliki pilihan paket yang ditawarkan berupa Paket Pasangan.

Pilihan Lokasi Makam di San Diego Hills

makam tipe single burial san diego hills
MansionKetersediaan
 Serenity N/A
 Crown N/A
Mount Sinai Available
 Sunshine N/A
 Light N/A
 AdorationN/A
pemakaman islam Sandiegohills
MansionKetersediaan
 Al Halim  Available
 Isya
 Available
 Al Jamil Available 
 Mercy Available 
 Charity N/A
 Al MajidN/A
kuburan cina san diego hills karawang
MansionKetersediaan
Columbarium Available
Lotus
N/A
Willow N/A
Emerald Available
Cherry Blossom Available
Bong PiN/A

Follow Us On :

Rate this post
Phone icon
0811 9888 959
WhatsApp icon
Whatsapp